Thursday, 8 May 2014

Relakan SBMPTN karena-Nya

Hai blogger, long time no see. Udah sekitar 4 bulanan aku nggak pernah nulis hehe.

Hari ini nggak tau kenapa kayak ada sesuatu yang pengen banget aku selesaiin, tapi aku nggak tau itu apa. Nah? Heran kan? Aku juga heran. Oh iya, bulan- bulan gini aku emang lagi dalam masa pengacara (re: pengangguran banyak acara) hehe. Bulan April kemarin aku barusan selesai ujian nasional tingkat SMA dan alhamdulillah nggak usah ditanya gimana soalnya, cukup buat stres, gitu aja. Nah kebetulan aku ikut intensif SBMPTN di suatu lembaga bimbingan belajar yang cukup terkenal, perlu disebutin namanya? Okelah, aku intensif di SSC ( Sony Sugema College). Disitu aku ikut yang paket general. Harganya? Waktu itu aku daftar waktu lagi ada promo sih, jadi bayarnya lebih murah hehe. Jadwal aku intensif ikut yang sesi pertama yaitu jam 07.00- 10.00, masuknya pun setiap hari. Senin sampai Minggu-pun aku tetep intensif, kecuali hari besar. Disitu juga ada hari dimana kita dapet konsultasi dari para motivator di SSC gimana strategi- strategi yang kudu kita kuasai waktu ngerjain soal SBMPTN, nah kebetulan banget hari ini waktunya konsultasi.

Konsultasi ini tujuan buat kita bisa bener milih jurusan dan bener- bener dapet nilai pasti. Maksudnya nilai pasti itu kita dapet nilai tanpa ada nilai minusnya (-). Kalian tau kan cara penilaian SBMPTN kayak apa? Nilai buat jawaban benar 4, jawaban salah -1, dan nggak dijawab 0. Jadi disini kita di kasih strategi buat meminimalkan jawaban yang salah. Nggak perlu aku tulis juga ya strateginya, kan pasti di bimbingan belajar lain juga di kasih gambling kayak gini tapi mungkin beda strategi aja, toh tujuannya sama, meminimalkan jawaban yang salah.

Awal aku masuk kelas buat konsultasi ya biasa aja emang, suasananya ceria, banyak temen- temen dari sekolah lain bahkan dari kota lain. Tapi problemnya bukan soal konsultasi ini, soal kenapa- aku- ikut- beginian- kalau- toh- aku- nggak- ikut- SBMPTN- nantinya.

Oke ceritanya dimulai disini.
Beberapa minggu sebelum aku ujian nasional, ada suatu tawaran yang aku nggak pernah nyangka bakal ditawarin kayak gini. Pergi ke rumah Allah, umroh. Awal ditawarin emang aku excited banget, alhamdulillah. Ya gimana, sebagai penganut agama islam, siapa yang nggak mau pergi ke rumah Allah? Pikirku waktu itu "Ini kesempatan emas, aku bisa berdoa disana biar aku diterima di ptn yang aku pengenin. Aku juga bisa doain temen- temenku yang lain". Dan tanpa pikir panjang aku langsung bilang "Iya aku mau". Sangking excited-nya aku bahkan nggak mikir gimana SBMPTNku nanti.

Sebenernya aku tau kalau berangkatnya pertengahan Juni dan aku juga sadar banget kalau SBMPTN dilaksanain pertengahan Juni juga. Tapi itu belum tau pasti berangkat pastinya tanggal berapa. Dan ketika paspor, seragam, vaksin meningitis buat kartu kuning, dan biaya semua udah di lunasi, barulah aku tau kalau berangkatnya tanggal 15 Juni dan SBMPTN dilaksanain tanggal 17 Juni. Jadi kalian udah paham dimana resahku? Sebenernya aku udah nggak terlalu mikir "Gimana SBMPTNku?", awalnya aku udah (agak) rela "Oke aku nggak ikut sbmptn, tapi aku harus ikut yang aku bisa ikutin (tes politeknik yang tanggalnya sebelum atau sesudah aku umroh)". Tapi tiba- tiba hari ini waktu aku dijemput ayahku sepulang konsultasi di SSC, beliau tanya, "Kamu udah beneran nggak apa nggak ikut SBMPTN? Maksudnya kamu udah rela nggak ikut SBMPTN?" DEG! Dad, you got me crazy, seriously........

Kenapa harus ditanyain kayak gitu? Sepanjang perjalanan pulang di mobil sama sekali aku nggak ada mood, sedih, pengen nangis.

SBMPTN itu opportunity dan aku harus nglepasin ini demi ke-excited-anku pergi umroh, ke-excited-anku berdoa ke Allah, deket sama Allah. Kalau kalian ada di posisiku? What should you do? Life is choice and my choice is Allah. Apa aku salah? Galauku disini. Aku nglepas tiket masuk PTN. FYI, aku emang ikut tes politeknik dan sebenernya aku prefer ke politeknik daripada universitas. Tapi entah setiap aku masuk intensif rasanya berat banget nerima kalau aku nantinya nggak akan ikut SBMPTN. Satu lagi, soal ujian politeknik dan soal SBMPTN sejauh yang aku tau, BEDA. Aku ngerasanya "Kenapa aku kudu ikut intensif kalau ujung- ujungnya aku nggak ikut SBMPTN? Kenapa dulu aku daftar intensif kalau tanggal 15 Juni aku berangkat? Kenapa? Kenapa? Kenapa?" di otakku sekarang cuma tanda tanya gede.

Aku tau semua datengnya dari Allah. Aku tau Allah bakal bantu aku. Aku tau Allah selalu denger doaku. Aku tau Allah sayang aku. Aku tau Allah bakal bantu ujian politeknikku. Aku tau kalau Allah ridho dan itu emang jalanku, kunfayakun.

Salam,
Nabila

Thursday, 28 November 2013

Mereka, diary-ku

Puput : Aku udah nonton hunger game lho. Serius baguuuuus!
Geta : Oh gtu? Temen jaman sekarang gitu? Nonton nggak ngajak- ngajak?
Puput : Lho enggak.....
Geta : Sama siapa Put?
Puput : Helmi-laaaaah
Geta : AH TERUS AKU NONTON SAMA SIAPA?
Me : Get, kamu nggak pernah denger spesies yang di sebut "temen"? Harus melulu sama pacar?

Ya kira- kira gitu sepenggal curhat riweuh pagi- pagi para cewek (agak) labil di kelas waktu baru aja naruh tas di atas meja. Masa kelas duabelas emang kudu di nikmati sebaik mungkin, termasuk salah satunya; pagi- pagi sudah berkoar ini itu bareng temen sepergaulan. Aku, Geta, Puput, Ifana, Ingrid, dan Gundes, lagi ngomongin film. Baru- baru ini ada sequel ke 2 Hunger Game, jadi kita pada riweuh kapan mau nonton dan sama siapa. Dari kita ber-lima, cuma Puput aja yang taken. Sedangkan aku, Geta, Gundes, Ifana, Ingrid single. Dan mereka adalah spesies yang aku sebut dengan "temen deket" atau "sahabat" mungkin? Selama kelas duabelas ini emang kita dekeeeeeeeeet banget. Curhat juga bareng. Tapi ada lah satu atau dua hal dari kita yang satu sama lain emang nggak ngerti dan nggak perlu ngerti mungkin. Tapi teteup, masalah perasaan buat aku mereka jagonya mood booster!

Beberapa bulan lalu waktu aku awal putus sama cowok, mereka juga yang support, mereka yang nyeka air mataku pake bercandaan dan penguatan mereka. Mereka yang kadang bikin galau muncul, kadang bikin happy muncul. Mereka yang ngingetin "Belajar, Neb!", "Jangan di bales bbm-nya, Neb!", "Nangis aja, Neb biar lega", sampai "Neb, kmu sakit? Perlu aku kesana? Tapi nggak bisa kayak mas itu ya yang bawain itu, aku bawain burger Kemirahan tapi" dan "Istirahat sayang, besok ujian praktek, masuk yaa jangan sakit" hmmmm

Akhir- akhir ini mereka emang pacar terbaik. Mereka yang bikin single-ku berasa taken. Mereka yang.......aaaah terharu ngomongnya :")

Kalau aku ceritain disini juga mungkin nggak ada habisnya. Karena mereka semua orang- orang yang di kirim Allah buat sembuhin semua luka gara- gara yang gak penting. Mereka penting. Aku butuh mereka. Aku sayang mereka. Mereka diary berjalanku. Mereka amplob terbaikku.

Dan buat aku, masa kelas duabelas emang lagi butuh- butuhnya pen-support kayak mereka. Mereka bisa jadi emergency hugs waktu down. Mereka walau kadang freak, tapi mengasyikkan! xoxo

Tuesday, 12 November 2013

Father's Day

"I have an excellent father, his strange is making me stronger. I love you for giving me your eyes. For staying back and watching me shine, Dad. Happy Father's Day! You're the best."

Terimakasih untuk tiga setengah tahun penuh perjuangan besarin dua gadis bapak sendiri tanpa pendamping hidup. Terimakasih untuk selalu nggak ngeluh kalau adik sama Gendut minta sesuatu di luar nalar. Terimakasih untuk selalu percaya. Terimakasih untuk selalu menyumbangkan pundak waktu adik lagi jatuh- jatuhnya. Terimakasih untuk selalu antar- jemput adik sekolah. Adik tau dari semua yang paling berharga, cuma bapak yang paling setia. Adik anak bapak, nggak bisa apa- apa tanpa bapak sekarang. Maaf adik terlalu gengsi mungkin buat ngomong langsung ke bapak kalau adik sayang bapak, selalu. Udah ah terharuuuuu. Selamat hari Ayah, bapak Edy Prihartono.





Best Regret.
Your little cute princess, Nabila.

Wednesday, 11 September 2013

Linger



......... I'm sure I'm not being rude but it's just your attitude. It's tearing me apart. It's ruining everything.


 

Everyday Story Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang